Okt, 2026
Pahami SLA internet, uptime 99,5%, dan parameter kualitas jaringan. Temukan cara memilih internet satelit BuanterOne untuk kebutuhan bisnis.
Koneksi internet yang stabil menjadi kebutuhan penting bagi bisnis, terutama di wilayah yang belum terjangkau jaringan terestrial. Salah satu indikator yang perlu diperhatikan saat memilih provider internet satelit adalah SLA atau Service Level Agreement.
Dokumen ini menjelaskan standar layanan yang disepakati, termasuk ketersediaan koneksi dan penanganan gangguan. Dengan memahami SLA, perusahaan bisa menilai kualitas layanan berdasarkan parameter yang jelas sebelum menentukan penyedia internet untuk mendukung operasional bisnis.
SLA (Service Level Agreement) adalah kesepakatan antara penyedia layanan dan pelanggan yang menetapkan standar kualitas layanan, target kinerja, serta tanggung jawab masing-masing pihak. Dalam layanan internet bisnis, SLA umumnya mencakup uptime, bandwidth, latensi, penanganan gangguan, dan waktu respons dukungan teknis.
Dokumen ini membantu perusahaan menilai apakah layanan yang digunakan sudah sesuai dengan kebutuhan operasional. Sebelum berlangganan, penting untuk memeriksa target layanan, periode pengukuran, serta ketentuan kompensasi jika standar tidak terpenuhi.
Dengan memahami SLA, bisnis bisa membandingkan penyedia internet secara lebih terukur, termasuk saat memilih layanan internet satelit untuk lokasi yang sulit dijangkau jaringan terestrial.
Memahami parameter jaringan membantu perusahaan menilai apakah layanan internet sesuai dengan kebutuhan operasional. Empat indikator berikut dapat menjadi acuan ketika membandingkan penyedia internet, termasuk layanan internet satelit.
Uptime menunjukkan persentase waktu ketika layanan internet tersedia dan bisa digunakan sesuai definisi dalam SLA. Semakin tinggi nilainya, semakin kecil alokasi waktu gangguan yang diperbolehkan dalam periode pengukuran yang sama.
Sebagai contoh, SLA 99,5% berarti layanan ditargetkan tersedia selama 99,5% dari periode yang diperhitungkan. Namun, perusahaan tetap perlu memeriksa cara pengukuran uptime, jadwal pemeliharaan, pengecualian gangguan, serta mekanisme pelaporan insiden.
Bandwidth menggambarkan kapasitas maksimum jaringan untuk mengirimkan data, sedangkan throughput menunjukkan jumlah data yang benar-benar berhasil ditransfer dalam kondisi penggunaan tertentu.
Keduanya penting untuk bisnis yang menjalankan aplikasi cloud, konferensi video, pemantauan CCTV, dan pertukaran data antarcabang. Perusahaan sebaiknya memastikan kapasitas koneksi sesuai dengan jumlah pengguna serta beban kerja harian.
Periksa juga apakah SLA mencantumkan bandwidth minimum yang dijamin, termasuk ketentuan CIR atau Committed Information Rate apabila tersedia.
Latensi adalah waktu yang dibutuhkan data untuk bergerak dari sumber menuju tujuan. Parameter ini biasanya diukur dalam milidetik. Latensi rendah penting untuk aplikasi yang membutuhkan komunikasi dua arah secara cepat, seperti panggilan video, akses jarak jauh, dan sistem pemantauan langsung.
Pada internet satelit, latensi dipengaruhi oleh orbit satelit, rute jaringan, dan kondisi koneksi. Teknologi satelit Low Earth Orbit atau LEO memiliki jarak orbit lebih dekat ke Bumi dibandingkan satelit geostasioner, sehingga berpotensi memberikan latensi lebih rendah.
Packet loss terjadi ketika sebagian paket data gagal mencapai tujuan. Kondisi ini bisa menyebabkan suara terputus, video tersendat, pengiriman data gagal, hingga koneksi aplikasi terputus.
Perusahaan sebaiknya memeriksa apakah SLA menetapkan batas packet loss dan metode pengukurannya. Nilai ini perlu dinilai bersama latency dan throughput karena ketiganya mempengaruhi pengalaman pengguna serta kinerja aplikasi bisnis.
Angka uptime sering menjadi salah satu pertimbangan utama saat memilih layanan internet. Namun, persentase tersebut perlu diterjemahkan menjadi perkiraan waktu gangguan agar perusahaan memahami implikasinya terhadap kegiatan operasional.
Jika uptime dihitung selama satu tahun penuh, SLA 99,5% setara dengan toleransi ketidaktersediaan sekitar 0,5% dari total waktu tahunan. Dengan asumsi satu tahun berisi 365 hari, perhitungannya adalah sebagai berikut:
Total waktu setahun mencapai 8.760 jam.
Persentase downtime sebesar 0,5% dari total waktu.
Perkiraan downtime mencapai 43,8 jam dalam setahun.
Angka tersebut merupakan ilustrasi matematis, bukan jaminan bahwa gangguan akan terjadi selama durasi tersebut. Waktu aktual bergantung pada ketersediaan layanan dan periode pengukuran yang ditetapkan dalam SLA.
Kecukupan SLA bergantung pada kebutuhan bisnis. Untuk kantor operasional dengan sistem yang masih memiliki prosedur cadangan, target tersebut mungkin sesuai. Namun, bisnis yang bergantung pada koneksi sepanjang waktu perlu mengevaluasi dampak downtime terhadap transaksi, keamanan, produksi, dan komunikasi.
Perusahaan juga perlu memeriksa kompensasi ketika target layanan tidak tercapai, prosedur eskalasi gangguan, serta waktu respons dan pemulihan yang dijanjikan. Persentase uptime yang tinggi perlu didukung ketentuan yang jelas agar bisa menjadi acuan evaluasi layanan.
Bisnis yang beroperasi di area terpencil menghadapi tantangan konektivitas yang berbeda dari perusahaan di pusat kota. Keterbatasan infrastruktur kabel dan jaringan seluler membuat internet satelit menjadi salah satu alternatif untuk menghubungkan lokasi operasional dengan sistem pusat.
Di sektor pertambangan, perkebunan, energi, dan maritim, koneksi internet mendukung komunikasi antar tim, pengiriman laporan, pemantauan perangkat, serta akses aplikasi perusahaan. Gangguan jaringan bisa memperlambat koordinasi dan menghambat pengambilan keputusan.
SLA membantu perusahaan menetapkan ekspektasi layanan sejak awal. Informasi mengenai uptime, pelaporan gangguan, dan dukungan teknis bisa digunakan untuk menyusun prosedur cadangan ketika koneksi tidak tersedia.
SLA juga membantu tim IT mengidentifikasi risiko konektivitas yang perlu diantisipasi. Perusahaan bisa menilai apakah perlu menyediakan koneksi cadangan, mengatur prioritas aplikasi, atau menyesuaikan jadwal pemeliharaan.
Meski begitu, SLA tidak menghilangkan seluruh risiko gangguan. Kondisi cuaca, perangkat terminal, konfigurasi jaringan lokal, dan infrastruktur pendukung tetap bisa mempengaruhi koneksi. Karena itu, pemilihan layanan perlu disertai perencanaan teknis sesuai kondisi lokasi.
Memilih layanan internet berdasarkan SLA perlu mempertimbangkan kebutuhan operasional, standar kualitas jaringan, dan dukungan teknis yang ditawarkan penyedia. Perusahaan sebaiknya tidak hanya membandingkan harga dan kecepatan, tetapi juga memeriksa ketentuan layanan secara tertulis sebelum berlangganan.
Beberapa aspek penting yang perlu diperiksa meliputi:
Target uptime untuk mengetahui tingkat ketersediaan jaringan dan toleransi downtime.
Kualitas koneksi yang mencakup bandwidth, latensi, dan packet loss sesuai kebutuhan aplikasi bisnis.
Dukungan teknis untuk memahami waktu respons, prosedur pelaporan gangguan, dan target pemulihan.
Ketentuan kompensasi apabila penyedia tidak memenuhi standar layanan yang disepakati.
Untuk bisnis di area terpencil, pertimbangkan internet satelit LEO sebagai alternatif konektivitas. Pastikan cakupan layanan, kebutuhan perangkat terminal, dan ketentuan SLA sesuai dengan kondisi lokasi serta kebutuhan perusahaan.
BuanterOne menyediakan konektivitas berbasis satelit LEO Eutelsat OneWeb untuk kebutuhan bisnis di berbagai wilayah, termasuk area terpencil. Teknologi ini menggunakan satelit pada orbit rendah sekitar 1.200 km dari Bumi, dengan karakteristik yang mendukung latensi lebih rendah dibandingkan teknologi satelit geostasioner.
Layanan internet satelit LEO BuanterOne ditujukan untuk kebutuhan seperti pertambangan, minyak dan gas, maritim, pertanian, serta mobilitas darat. Konektivitas ini membantu menghubungkan lokasi operasional dengan sistem perusahaan ketika jaringan terestrial terbatas.
Berdasarkan informasi pada situs resminya, BuanterOne mencantumkan SLA hingga 99,5%. Perusahaan tetap perlu mengonfirmasi cakupan jaminan, metode pengukuran, dan ketentuan yang berlaku untuk paket layanan yang dipilih sebelum berlangganan.
Kualitas koneksi juga dipengaruhi oleh terminal pengguna yang digunakan. BuanterOne menyediakan beberapa pilihan terminal, termasuk model parabola dan panel datar, dengan spesifikasi serta karakteristik pemasangan yang berbeda.
Pemilihan perangkat perlu mempertimbangkan lokasi pemasangan, kebutuhan mobilitas, ruang yang tersedia, dan lingkungan operasional. Pelajari pilihan user terminal untuk membandingkan perangkat yang tersedia dan mendiskusikan kebutuhan konektivitas perusahaan.
Apa kepanjangan SLA?
SLA adalah Service Level Agreement, yaitu kesepakatan yang menetapkan standar layanan antara penyedia dan pelanggan, termasuk target kinerja serta penanganan gangguan.
Apakah SLA 99,5% berarti internet selalu aktif?
Tidak. Angka tersebut menunjukkan target ketersediaan sebesar 99,5% dalam periode pengukuran yang disepakati. Gangguan masih mungkin terjadi sesuai ketentuan layanan.
Apakah SLA hanya mengukur uptime?
Tidak selalu. SLA bisa mencakup bandwidth, latensi, packet loss, waktu respons dukungan teknis, dan ketentuan pemulihan gangguan. Cakupannya bergantung pada perjanjian masing-masing penyedia.
Apakah internet satelit LEO cocok untuk bisnis di daerah terpencil?
Internet satelit LEO bisa menjadi pilihan ketika jaringan kabel dan seluler terbatas. Kesesuaiannya bergantung pada cakupan layanan, kebutuhan aplikasi, kapasitas jaringan, dan kondisi pemasangan.
Memahami SLA membantu perusahaan menilai ketersediaan jaringan, memperkirakan risiko downtime, dan memilih konektivitas berdasarkan kebutuhan operasional. Untuk bisnis di area terpencil, internet satelit LEO bisa menjadi alternatif yang layak dipertimbangkan ketika infrastruktur terestrial belum memadai.
BuanterOne menyediakan layanan internet satelit LEO dengan SLA yang dicantumkan hingga 99,5%. Kunjungi kami untuk mengenal layanan yang tersedia dan konsultasikan kebutuhan konektivitas perusahaan Anda sebelum menentukan paket yang sesuai.